Rabu, 10 Agustus 2011

Kepulauan Raja Ampat



SEJARAH TERBENTUK RAJA AMPAT DI PAPUA

Seperti diketahui pada masa pemerintahan Sultan Tidore yang mengenal kepulauan Nusantara, maka kepulauan Maluku dikenal sebagai pintu masuk menuju pulau Raja-raja.Inilah sebabnya Bangsa Arab menamakan JAZIERAHTUL BAAB MOMLUK tentu berbeda dengan JAZIERATUL BAAB EI MANDEB ditanah Arab.
Pada kerajaan di Maluku dan daerah sekitarnya mengakui eksistensi keberadaan Kolano (Irian menyebut Korano) yang artinya sebagai pemimpin mereka yang dihormati dan dipercaya. Pada gugusan kepala burung itulah nama Kolano Fat yang berarti Raja Ampat terpatri hingga kini sebagai jati diri dari pulau Maluku Yaitu : Sultan Tidore,Ternate Bacan dan Jailolo.Namun secara Mikro yang dimaksudkan adalah raja-raja dikepulauan Irian yaitu Raja Salawati,Raja Missol,Raja Batanta dan Raja Waigeo.
Dalam peta dunia orang hanya mengenal kepulauan raja Ampat adalah kesenambungan dari pemerintahan Maluku Kie Raha.
Sebagai penggemar sejarah Presiden RI pertama Soekarno mengetahui tentang noktah pulau Irian sehingga begituantusianya beliau berusaha menuntut pulau Irian dari tanggan kolonial Belanda, namun perjuangan diplomasi tidak berhasil sehingga lewat Trikora yang dicanangkan di Yogyakarta pembebasan Irian dilaksanakan. Karena kekuatan angkatan bersenjata Indonesia adalah yang terbesar di wilayah Asia Tenggara.

Di kepulauan Maluku inilah cikal bakal dari historis Irian terungkap karena jelas pulalu Irian mulai mengenal peradaban dunia luar yang sekian lama bagai tertutupawan gelap yang menyelimuti salju. Hal ini memang dipahami mengingat letak geografis keberadaan Maluku adalah tetangga terdekat disamping mempunyai struktur pemerintahan kuat yang lengkap dan kekuatan armada perangnya yang mampu menjangkau seluruh kepulauan Nusantara.Perjalanan arsenal badai Utaranya mampu meruak sampai Borneo,Sabah,Sulawesi,Zuhu,Mangindanao,Irian Nusan Tenggara dan Sunbawa serta terus ke bagian timur pasifik.
Struktur pemerintahan Raja Ampat seperti negri Salawati yang masuk dalam kabupaten Sorong meliputi daratan pantai Irian menggunakan bahasa Maden yang merupakan bagian dari bahasa Maya yaitu bahasa umum di kepulaan Raja Ampat.
Ada beberapa suku yang kita jumpai disana yaitu Suku Sailolof,Kotlot,Waipuh Waipam dan Suku Palamul. Kelompok palata berasal dari teluk mayabilit (Waegeo) sedangkan kelompok palamul berasal dari daerah onim (fak-fak).Ada juga dijumpai penduduk moilemo, bira sagun dimana komunikasi bahanya menggunakan bahasa maya.
Selurah penduduk pulau Salawati kini memeluk agama Islam dan agama Keristen namun disisi lain mereka tetap mempertahankan kehidupan asli mereka yaitu agama primitif dimana budaya mon atau jin masih melekat dalam upacara persembahan dimalam hari dan menari sampai pagi.
Struktur pemerintahan si Solilolof ( Raja Ampat) berbentuk kerejaan dibantu olah suatu dewan adat yang terdiri dari kepala adat dimana tiap marga (Gelet) mempunyai wakilnya di dewan. Disamping Dewan Adat Kerajaan, Fun juga mengangkat perwakilan unruk meneruskan pemerintahnya didaerah yang jauh di pusat pemerintahan
Ada beberapa gelar kepala adat Raja Ampat dengan jabatannya masing-masing yang merupakan pemberian gelar dari SULTAN TIDORE kepala FUN yang secara periodesasi tetap mengantar upeti ke Kerajaan TIDORE.
a) Marga Metawai——————-Kepala adanya bergelar Jujau
b) Marga————————— Kepala adat bergelar Hukum
c) Marga Umalelen————— Kepala adat bergelar Domlaha/giemalaha
d) Marga Gemoor—————– Kepala adat bergelar Sawohit
e) Marga Ulla———————- Kepala adat bergelar Sadaha
f) Marga Umpeles—————- Kepala adat bergelar Mahimo.

Disamping gelar adat, wakil-wakil Fun dipulau Salawati bergelar Kapita Umal atau mirimo (Mahimo) disapa galar merimo di kepulauan mesa kapal bergelar sangaji sedangkan diseget bergelar dumlaha.
Singkat cerita ; pada umumnya wakil-wakil diluar kerajaan bertugas mengumpulkan upeti keapada Fun yang nentinya diteruskan ke SULTAN TIDORE.


Pesona Wisata Raja Ampat


Sabtu, 06 Agustus 2011

Ngaben

Ngaben adalah upacara pembakaran mayat atau kremasi umat Hindu di Bali, Indonesia. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang. Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Tidak ada airmata, karena jenasah secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasa atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).

Hari yang sesuai untuk acara ini selalu didiskusikan dengan orang yang paham. Pada hari ini, tubuh jenasah diletakkan di dalam peti-mati. Peti-mati ini diletakkan di dalam sarcophagus yang menyerupai Lembu atau dalam Wadah berbentuk vihara yang terbuat dari kayu dan kertas. Bentuk lembu atau vihara dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah.


Puncak acara Ngaben adalah pembakaran keluruhan struktur (Lembu atau vihara yang terbuat dari kayu dan kertas), berserta dengan jenasah. Api dibutuhkan untuk membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi.

Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segaera. Untuk anggota kasta yang tinggi, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya dalam acara kelompok untuk suatu kampung, dikremasikan.

Suku Tengger

Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.


Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung
dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger".

Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Borneo

Suku Dayak Meratus


Suku Dayak Bukit (Buguet[1][2]atau Suku Dayak Meratus atau Dayak Banjar adalah kumpulan sub-suku Dayak yang mendiami sepanjang kawasan pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Selato menduga, suku Bukit termasuk golongan Suku Punan.[3]. Tetapi Tjilik Riwut membaginya ke dalam kelompok-kelompok kecil seperti Dayak Alai (Labuhan), Dayak Amandit (Loksado), Dayak Tapin (Harakit), Dayak Kayu Tangi, dan sebagainya, selanjutnya ia menggolongkannya ke dalam Rumpun Ngaju. Namun penelitian terakhir dari segi bahasa yang digunakan sub suku Dayak ini tergolong berbahasa Melayik (bahasa Melayu Lokal). Orang Banjar Hulu sering menamakannya Urang Bukit, sedangkan orang Banjar Kuala sering menamakannya Urang Biaju.

Sesuai habitat kediamannya tersebut maka belakangan ini mereka lebih senang disebut Suku Dayak Meratus, daripada nama sebelumnya Dayak Bukit yang sudah terlanjur dimaknai sebagai orang gunung. Padahal menurut Hairus Salim dari kosa kata lokal di daerah tersebut istilah bukit berarti bagian bawah dari suatu pohon yang juga bermakna orang atau sekelompok orang atau rumpun keluarga yang pertama yang merupakan cikal bakal masyarakat lainnya.

Suku Buket, nama yang dipakai oleh BPS untuk etnik ini dalam sensus penduduk tahun 2000. Di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 suku Buket berjumlah 35.838 jiwa, sebagian besar daripadanya terdapat di kabupaten Kota Baru yang berjumlah 14.508 jiwa.


Suku Bukit juga dinamakan Ukit, Buket, Bukat atau Bukut. Suku Bukit atau suku Dayak Bukit terdapat di beberapa kecamatan yang terletak di pegunungan Meratus pada kabupaten Banjar, kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, kabupaten Tapin, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru.

Beberapa suku-suku Dayak Meratus yaitu :


Menurut Cilik Riwut, Suku Dayak Bukit merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju.

Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.

Silsilah suku Bukit;

Suku Dayak (suku asal), terbagi 5 suku besar / rumpun:

  • Dayak Laut (Iban)
  • Dayak Darat
  • Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
  • Dayak Murut
  • Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
    • Dayak Maanyan
    • Dayak Lawangan
    • Dayak Dusun
    • Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan (sedatuk) :
      • Dayak Bukit
      • Dayak Bakumpai
      • Dayak Berangas
      • Dayak Mendawai
      • dan lain-lain


Rumpun Ot Danum


Menurut Cilik Riwut, Suku Dayak Bukit merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju.

Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.

Silsilah suku Bukit;

Suku Dayak (suku asal), terbagi 5 suku besar / rumpun:

  • Dayak Laut (Iban)
  • Dayak Darat
  • Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
  • Dayak Murut
  • Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
    • Dayak Maanyan
    • Dayak Lawangan
    • Dayak Dusun
    • Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan (sedatuk) :
      • Dayak Bukit
      • Dayak Bakumpai
      • Dayak Berangas
      • Dayak Mendawai
      • dan lain-lain

Menurut Alfani Daud, suku Dayak Bukit sebagaimana suku Banjar, nenek moyangnya juga berasal dari Sumatera dan sekitarnya ( daerah Melayu). Karena itu bahasa Bukit dinamakan sebagai "Bahasa Melayu Bukit" (Bukit Malay).


Budaya Bukit


Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku Kanayatn di Kalimantan Barat. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi ngayau yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.

Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang" yang disebut juga Aruh Ganal. Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.

Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).

Suku Dayak Bukit menganal tiga kelompok roh pemelihara kawasan pemukiman dan tempat tinggal yaitu :

  1. Siasia Banua
  2. Bubuhan Aing
  3. Kariau

Siasia Banua contohnya :

  1. Siasia Banua Kambat
  2. Siasia Banua Pantai Batung
  3. Siasia Banua Kambat
  4. dan sebagainya

Bubuhan Aing (= komunitas air) contohnya :

  1. Bubuhan Aing Muhara Indan
  2. Bubuhan Aing Danau Bacaramin
  3. Bubuhan Aing Maantas
  4. dan sebagainya

Kariau contohnya :

  1. Kariau Labuhan
  2. Kariau Padang Batung
  3. Kariau Mantuil
  4. dan sebagainya

Bahasa Melayu Bukit


Bahasa Dayak Bukit, menurut penelitian banyak kemiripan dengan dialek Bahasa Banjar Hulu. Ada pula yang menamakan bahasa Bukit sebagai "bahasa Banjar archais". Bahasa Bukit termasuk Bahasa Melayu Lokal yang disebut Bahasa Melayu Bukit (bvu).

Perbandingan hubungan suku Bukit dengan suku Banjar, seperti hubungan suku Baduy dengan suku Banten. Suku Banjar dan suku Banten merupakan suku yang hampir seluruhnya memeluk Islam, sedangkan suku Bukit dan suku Baduy merupakan suku yang teguh mempertahankan religi sukunya.

Populasi Suku Bangsa Dayak Bukit


Populasi suku Dayak Bukit di Propinsi Kalimantan Selatan : 35.838 (BPS - sensus th. 2000)

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan berjumlah 35.838 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :